![]() |
Kegiatan Launching DigitalisasiLayanan Pos Universal |
Launching
dihadiri oleh Hadi Purnomo Ketua Tim Penyelenggara LPU Kementerian Kominfo,
Siti Choiriana Direktur Kurir dan Logistik PT Pos Indonesia (Persero), Wakil
Walikota Solo Teguh Prakosa, serta Komunitas Postcrossing Indonesia.
Pos
Indonesia merupakan penyelenggara pos yang ditunjuk pemerintah untuk menjamin terselenggaranya
Layanan Pos Universal. Layanan ini memungkinkan masyarakat mengirim serta
menerima kiriman dari suatu tempat ke tempat lain di dunia. Pemerintah
mewajibkan adanya pengukuran kinerja waktu tempuh kiriman LPU di wilayah
Indonesia.
“Guna
menjawab tantangan ini dan sejalan dengan program transformasi perusahaan, Pos
Indonesia menggunakan barcode bagi seluruh kiriman LPU yang beredar di
Indonesia. Kiriman berprangko kini bisa terlacak keberadaannya melalui website
posindonesia.co.id,” ungkap Ana, panggilan akrab Siti Choiriana.
Salah
satu contoh kiriman LPU yang banyak digunakan di Indonesia ialah kartu pos.
Penggunanya adalah para filatelis dan postcrosser, terutama kiriman dari dan untuk ke luar negeri. Penempelan barcode
kiriman LPU dari dalam negeri dilakukan di kantorpos kirim, sedangkan
penempelan barcode kiriman LPU yang diterima dari luar negeri dan belum diberi
barcode oleh negara asal dilakukan di
International Processing Center (IPC) di Jakarta sebagai gateway impor.
Seiring
dengan transformasi yang dilakukan Pos Indonesia, diluncurkan pembaruan pada
proses operasi kiriman suratpos LPU. Aplikasi loket ini diantaranya dapat
digunakan untuk menentukan besaran tarif prangko yang digunakan saat pengiriman
surat maupun kartu pos. “Aplikasi juga
terintegrasi dengan aplikasi Custom Declaration System (CDS) untuk kiriman
tujuan luar negeri, agar sesuai dengan ketentuan domestik dan internasional,” kata Ana.
![]() |
11 Tahun Komunitas Postcrossing Indonesia |
“Kami
menyambut baik digitalisasi LPU melalui transformasi penggunaan barcode
terintegrasi yang dilakukan Pos Indonesia. Kominfo akan memantau penggunaannya
di lapangan. Kami juga memberi masukan dalam hal penyesuaian dan perbaikan
dalam penggunaan barcode dan aplikasinya”, jelas Hadi Purnomo.
Untuk
menampung aspirasi dari para filatelis dan postcrosser, dalam kegiatan ini juga
diperkenalkan barcode dengan material baru. Barcode ini dinilai lebih
bersahabat dengan para filatelis dan postcrosser karena terbuat dari bahan yag
removeable sehingga tidak merusak permukaan kartu pos dan prangko saat dilepas.
Launching juga turut dihadiri oleh perwakilan filatelis dan Komunitas
Postcrossing Indonesia (KPI) dari seluruh Indonesia yang tengah gathering
merayakan Hari Ulang Tahun yang ke-11. (*).